Sunday, May 15, 2011

Pendidikan


10 Kesalahan
Yang Dilakukan Orang Tua


Menyayangi anak adalah naluri yang muncul pada setiap orang tua. Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang terbaik. Namun di tengah berkembangnya zaman, di mana kedua orang tua sama-sama sibuk di luar rumah, kecenderungan orang tua melakukan kesalahan terhadap anak semakin besar terjadi.

Di tengah doa dan harapan untuk melihat anak berkembang menjadi pribadi yang positif, orang tua masih melakukan kesalahan dalam pengasuhan anak, yang ironisnya dilakukan dengan alasan menyayangi sang anak.
Berikut ini adalah beberapa kesalahan yang kerap dilakukan orang tua pada anak:

1. Memanjakan Anak
Tak diragukan lagi bahwa semua orang tua mencintai anaknya dan ingin agar anak terpenuhi semua kebutuhannya. Namun, hal ini justru sering menjadi masalah. Semua permintaan anak yang dituruti orang tua justru pada akhirnya membuat anak menjadi tidak bahagia. Mereka menjadi anak yang tak pernah puas dan selalu menuntut lebih banyak.

Agar menjadi tenang dan gembira anak-anak tak selalu membutuhkan mainan, pakaian, atau makanan. Seringkali, sedikit perhatian dari orang tua sudah membuat mereka merasa nyaman dan gembira.
Dengan cara dimanja, bagaimana kita dapat mempersiapkan mereka untuk dapat menerima kegagalan/kekecewaan yang terjadi dalam hidup mereka? Atau bagaimana kita dapat mengajari mereka untuk bersyukur atas apa yang mereka peroleh?

2. Disiplin Yang Kurang
Jika orang tua kurang memberikan disiplin sejak anak masih kecil, anak kemudian akan menjadi sumber masalah bagi orang-orang di sekitarnya. Sebagai orang tua, ayah ibu pasti tak ingin jika anak kita dimarahi orang lain karena tak mengerti aturan kan?
Menerapkan disiplin pada anak memang membutuhkan usaha dan keteguhan hati yang besar dari orang tua. Namun hal itu harus dimulai dan tak akan terasa terlalu berat jika kita memulainya sejak dini. Disiplin bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan sehari-hari, seperti saat makan, saat bermain, dan meletakkan barang-barang kembali ke tempatnya.

3. Kurang Terlibat Dalam Urusan Sekolah Anak
Setelah rumah, sekolah adalah tempat di mana anak menghabiskan lebih banyak waktu dibandingkan tempat lain. Sekolah juga menjadi tempat pembentukan karakter mereka lewat interaksi dengan guru dan teman. Jadi, bagaimana mungkin orang tua tidak mau ikut terlibat dengan apa yang berlangsung di sekolah anak-anak mereka? Tak masalah jika hanya salah satu orang tua yang aktif hadir ke sekolah. Setelah menitipkan anak belajar di sekolahnya (bahkan seringkali dengan usaha yang cukup berat) seyogyanya orangtua juga melibatkan diri dalam urusan yang menyangkut pendidikan anak di sekolah.
Jangan jadikan pekerjaan sebagai alasan ketidakhadiran orang tua di sekolah. Ambilah cuti jika perlu. Orang tua perlu menjalin komunikasi yang intensif dengan guru. Para guru akan merasa lebih mudah jika orang tua ikut memperhatikan perkembangan anak dan mereka akan cepat dapat memeberitahukan jika terjadi sesuatu pada anak. Guru akan dapat melakukan pendekatan yang lebih aktif jika mengetahui orang tua selalu mendukung.

4. Memberikan Penghargaan Besar Untuk Prestasi Kecil
Saat kita sedang berjuang untuk mendorong anak untuk melakukan yang terbaik dan mengembangkan kepercayaan dirinya, kadang-kadang kita juga melakukan sesuatu yang bertentangan. Contohnya, kita menghadiahi anak dengan sepasang pakaian baru saat ia berhasil meletakkan mainannya sendiri ke tempatnya setelah bermain.

Contoh lain, dalam perlombaan olah raga, dengan alasan kasihan, semua peserta mendapatkan piala karena telah berpartisipasi. Jika semua peserta mendapat piala, anak yang menjadi juara akan merasa bahwa pialanya tak istimewa lagi. Padahal piala tersebut ia dapatkan dengan perjuangan yang lebih keras dibandingkan peserta lain sehingga ia layak mendapatkan gelar juara. Secara tak disadari kita menghilangkan makna berjuang dan berprestasi yang ingin kita tanamkan pada anak.

5. Tidak Memberikan Anak Tanggung Jawab Yang Cukup
Orang tua tak boleh membiasakan anak mengharapkan imbalan dari apa yang dikerjakannya di rumah. Imbalan/hadiah hanya boleh diberikan untuk pekerjaan ekstra yang dilakukan anak. Orang tua harus memberikan kesadaran pada anak, sebagai bagian dari keluarga anak memiliki tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Jika mereka tumbuh tanpa rasa tanggung jawab yang cukup, bagaimana kita mengharapkan mereka untuk menjadi bertanggung jawab dalam menjalani pendidikan atau pekerjaannya kelak? Tentunya untuk menumbuhkan tanggung jawab ini kita perlu melihat usia anak sehingga mereka dapat diberikan tugas yang sesuai. Memberikan tanggung jawab yang terlalu berat pun akan berakibat buruk karena anak akan menjadi sangat terbebani.

6. Hubungan Suami-Istri Yang Kurang Baik
Bagaimana suami atau istri memperlakukan pasangannya sangat berpengaruh pada anak dalam menjalin hubungan kelak. Jika orang tua memperlakukan pasangan dengan kurang bai, sering bertengkar, anak akan cenderung berlaku sama pada saat dewasa. Anak lebih banyak belajar dengan melihat contoh daripada mendengarkan nasihat orang tua. Jika suami istri memperlakukan masangannya dengan mesra dan saling menghargai, hal itu juga akan mendidik anak tentang nilai-nilai yang baik dalam keluarga. Itu juga akan membuat anak merasa keluarga adalah tempat yang hangat dan nyaman untuk kembali saat menghadapi dunia yang kejam.

7. Membuat Harapan yang Tidak Realistis
Saat berhadapan dengan anak, orang tua perlu menetapkan harapan yang realistis, terutama saat anak masih kecil. Misalnya jika orrang tua membawa anak yang berusia 2 tahun makan di restoran dan berharap ia akan duduk manis, berarti orang tua menetapkan harapan yang tidak realistis dan hanya akan menemui kekecewaan. Juga jika orang tua ingin anak menjadi bintang basket sementara anaknya kecil mungil dan memiliki hobi main klarinet, orang tua perlu mengkaji kembali cita-cita tersebut. Jangan menetapkan harapan yang tak masuk akan bagi anak karena hal itu hanya akan membuat kekecewaan pada anak dan orang tua. Kebahagiaan anak adalah harapan terbesar yang harus dicapai orang tua.

8. Tak Membekali Anak Keterampilan Yang Cukup Untuk Mandiri
Banyak orang tua yang cenderung memperlakukan anak terus seperti anak kecil dan menyediakan semua yang dibutuhkan anak. Hal ini akan membuat anak kurang menghargai pentingnya kerja keras dan tumbuh menjadi pribadi yang manja dan tidak mandiri. Anak zaman sekarang cenderung mengharapkan orang lain melakukan segalanya bagi mereka, dari membersihkan kamar hingga menempelkan plaster pada luka mereka. Mengajarkan mereka untuk lebih tegar dan mampu melakukan berbagai hal sendiri bukan berarti orang tua tak mencintai anak, justru karena rasa sayang pada mereka.

9. Memaksakan Selera Pribadi terhadap Anak
Biarlah anak-anak tetap menjadi anak-anak. Orang tua tak seharusnya memaksakan selera atau mimpi yang dimilikinya pada anak dan menjadikan anak tumbuh dewasa sebelum waktunya. Misalnya menindik bayi perempuan yang baru lahir. Anak belum membutuhkan anting untuk membuatnya merasa cantik. Hal itu hanya untuk memuaskan keinginan orang tua untuk membuat anaknya tampak lebih cantik. Padahal dengan memakai anting, kemungkinan menjadi lebih besar anak menjadi terluka atau mengalami infeksi dari proses tindik, dan rawan menjadi sasaran kejahatan. Dalam undang-undang perlindungan anak, hal itu dapat dianggap sebagai tindakan kekerasan terhadap anak.

10. Melanggar Aturan Yang Telah Disepakati
Mematuhi aturan yang dibuat kadangkala memang sulit dan merepotkan. Namun orang tua perlu berteguh hati untuk tetap konsisten pada apa yang telah disepakati bersama anak. Misalnya jika anak telat pulang dari bermain di rumah temannya ia akan menerima sanksi tak boleh bermain ke rumah temannya selama 3 hari, orang tua harus berusaha tetap menjalankan hal itu walaupun anak cemberut atau merengek. Begitu juga orang tua harus mau menerima sanksi bila melanggar kesepakatan yang dibuat. Jika orang tua tak berusaha untuk melakukan apa yang telah dijanjikan, kepercayaan anak akan hilang dan cenderung menganggap orang tua hanya sekadar bicara.

No comments:

Post a Comment